Selasa, 13 April 2021

GURU SEBAGAI CONTENT CREATOR

GURU SEBAGAI CONTENT CREATOR

🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱

Istilah content creator ini mungkin lebih sering kita dengar ketika membicarakan selebgram, youtuber, atau influencer ya..

Padahal sebetulnya siapa saja bisa jadi content creator.

Termasuk Guru 😊, lalu...

(1) Apa itu konten digital?

(2) Apa saja tahapan penguasaan konten digital?

(3) Mengapa Guru perlu membuat konten digitalnya sendiri?

(4) Apa saja yang perlu dikuasai Guru untuk membuat konten digital?

Kita akan bahas 4 poin di atas. Kita mulai dengan poin pertama. 


(1) Apa itu konten digital?

Materi ini saya sadur dari konsultan pendidikan di Websis for Edu. 


Konten Digital itu banyak sekali formatnya.

Namun selama materi tersebut disampaikan dalam bentuk dan melalui platform digital, dapat disebut konten digital. Seperti,

. ebook

. video pembelajaran

. poster

. podcast

Tapi bisa juga berupa:

. Postingan di FB

. Instagram

. Youtube

. TikTok

Pertanyaannya...

Seberapa sering kita membuat dan berbagi materi di platform tersebut?

Sebagai contoh membuat pelajaran deng aplikasi TikTok.

TikTok jangan dilihat hanya sebagai video joget joget saja lho.

Anak sekarang banyak sekali yg senang lihat TikTok. Justru jadi media yg sangat bagus utk kita memberikan materi pembelajaran.

Saya sendiri juga belakangan sedang mempelajarinya. Meskipun banyak orangtua dan guru yg skeptis dengan TikTok. Karena merasa kurang berfaedah.

Kalau saya prinsipnya.

Kalau belum banyak konten yg berkualitas, justru jadi kesempatan kita utk mengisinya dengan konten yang berfaedah.

Bahkan Kemendikbud punya akun Tiktok resmi 😊

https://vm.tiktok.com/ZMJwXCAKS/

Karena memang prinsipnya. Kita tidak bisa mencegah anak untuk menyukai sesuatu. Jadi lebih baik kita yg berperan, membuat kebaikan di sana. 

Nah untuk terkait pendampingan penggunaan gadget. Anak anak harus tetap kita dampingi suka tidak suka. Memang tidak ada jawaban yg mutlak untuk ini. Karena semakin kita larang, biasanya malah semakin penasaran. Ujung-ujungnya, sembunyi-sembunyi buka aplikasinya saat kita tidak ada. Lebih baik didampingi, ditanyakan kenapa senang nonton tiktok, apa yg dicari. Berikut contoh pembelajaran berbasis TikTok.

https://m.tiktok.com/v/6883845903472479493

https://m.tiktok.com/v/6841598444134616321

Namun pembelajaran tidak harus dengan TikTok kok. Banyak media lain yg bisa dimanfaatkan (Youtube, IG, dsb). Intinya, kita bisa memanfaatkan media yg memang sedang banyak digunakan anak 😊.

Pada penerapannya tentu berbeda, perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing tempat.😊

Ada beberapa alternatif yg bisa dipertimbangkan.

Di Tiktok ada banyak challenge tarian, kita bisa memilih yg cocok dengan materi, kemudian gerakan tsb yg dijadikan tugas.

Atau bisa dengan merekam, setelah dicontohkan gerakan tertentu utk diikuti siswa. Dan masih banyak lagi alternatif lainnya.

Dan tentu saja saya sangat sarankan kita terus sembari mendampingi dan memberi pesan, bahwa media tsb harus digunakan dengan bijak.

Ini tidak hanya utk Tiktok, tapi utk media apapun.

Youtube, IG, FB, dan lainnya.

Karena semua media bisa digunakan utk hal yg tidak baik. Telegram yg sekarang kita pakai pun banyak juga penggunaan kurang baiknya.

Selama kita bisa membuatnya menjadi lebih banyak manfaat daripada mudharat nya, mari kita berperan di sana


Kita masuk ke poin kedua

(2) Apa saja tahapan menguasai konten digital?

Pada dasarnya, ada tiga tahapan penguasaan konten digital:

1. Kurasi

2. Modifikasi

3. Kreasi


Pertama adalah Kurasi

Kurasi adalah kegiatan mencari, menyeleksi dan mengklasifikasi konten-konten digital yang sudah ada.

Tentunya disesuaikan dengan tujuan pembelajaran kita.

Contoh:

Pemanfaatan playlist di Youtube.

Kita ingin mengajarkan murid mengenai persiapan kemerdekaan Indonesia. 

Kita lalu mencari video-video di Youtube yang sesuai dengan tujuan belajar kemudian dikumpulkan menjadi satu playlist. 

Playlist tersebut lalu kita kirimkan kepada Murid.

Contoh nya seperti ini

https://www.youtube.com/playlist?list=PLi4ddkIzdiz8mYE2MGQcYN29_CqVYL8P0

Atau kita bisa menggunakan highlight di Instagram.

Contohnya seperti ini

https://www.instagram.com/s/aGlnaGxpZ2h0OjE3ODgzNTA0MTg0NTIyMjI4


Tadi tahapan pertama adalah kurasi

Tahapan Kedua adalah Modifikasi.

Modifikasi artinya konten-konten digital yang sudah ada diberikan nilai tambah dengan adanya elaborasi dari kita. Atau pun materi tambahan yang memperkaya isi konten yang sudah ada.

Contoh

Kita mungkin menemukan video di Youtube mengenai sel, namun penjelasannya dalam Bahasa Inggris. Kita lalu mengedit videonya untuk menjelaskannya dalam bahasa Indonesia.

Lalu tahapan ketiga adalah Kreasi

Kreasi artinya kita membuat sendiri konten digital seperti video pembelajaran, siaran, lagu, ebook mini (rangkuman), poster digital, LKS atau pun modul digital. 

Setelah kreasi tentu kita kembali ke kurasi supaya konten-konten tsb bisa dikelompokan dengan baik dan mudah digunakan oleh murid.

Melakukan Kurasi Konten Pendidikan di YouTube 

https://youtu.be/ANQSmizQD4g

Menemukan Konten Pendidikan Berkualitas Tinggi di YouTube 

https://youtu.be/gs_W5zxPjrs

Mengajarkan Keamanan dan Privasi bagi Siswa 

https://youtu.be/AhgCsWHujS8


(3) Mengapa Guru perlu membuat konten digitalnya sendiri?

Ada tiga alasan mengapa Guru perlu membuat konten digitalnya sendiri:

1. Tidak semua konten digital tersedia dan sesuai dengan kebutuhan belajar murid.

2. Kita menjadi role model untuk murid. 

Kita sebagai pengajar sering meminta murid membuat video presentasi, tetapi kita sendiri masih selalu mengambilnya dari youtube atau dari blog orang lain. Dengan mencontohkan, murid akan lebih termotivasi untuk membuat karya.

3. Melatih kreativitas kita. 

Kita terus mengembangkan diri untuk mencoba dan menggunakan penyampaian materi dengan format yang beragam. Kemudian terakhir, InsyaAllah membantu bagi Bapak Ibu guru yg beraspirasi untuk melakukan Kreasi.

(4) Jika Guru akan memulai membuat konten digital, apa saja yang perlu dilakukan?

Mulai secara bertahap

Ketika kita membuat konten digital ada beberapa pengetahuan yang perlu kita kuasai yaitu:

1. Pengetahuan teknologi

(penggunaan aplikasi, hardware, dsb), 

2. Pengetahuan pedagogi 

(skenario dan strategi untuk menyampaikan konten dalam format tertentu).

Contoh:

jika kita ingin membuat video pembelajaran, bisa mulai tahap pertama dengan slide presentasi dibantu dengan perekam layar.

hingga tahapan selanjutnya menggunakan animasi untuk mendukung penjelasan konten.

Berani mencoba

Mengutip dari ucapan rekan saya sesama guru, "tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai" 

Sama ketika kita mulai membuat konten digital. 

"Konten digital yang baik adalah konten yang selesai dibuat"

Jadi coba buat dulu saja, 

kemudian evaluasi lalu buat yang lebih baik.

Jadi tidak masalah, walaupun masih sederhana, tapi tetap melakukan kreasi konten sendiri 😊

Karena semakin sering dibuat, hasilnya akan semakin memuaskan.

Awalnya sederhana, lama-lama semakin mempesona.

Konten Digital menjadi Efektif, jika didukung dengan Skenario Guru yang Efektif. 

Buatlah aktivitas yang mendukung misalnya seperti diskusi setelah membaca ebook atau menonton video pembelajaran dilakukan. 

Atau kemas dalam bentuk permainan sehingga murid perlu mengkonsumsi konten digital yang disiapkan untuk bisa menyelesaikan tantangan berikutnya.

Sedikit tips membuat video pembelajaran bisa dilihat di sini.

https://www.instagram.com/p/CB0Xgcug1dM/

Cara Merekam Narasi Penjelasan di Anchor 

https://youtu.be/NJlr6oaTE48

Zoom - Menyiarkan Langsung (Live Streaming) Pertemuan Zoom ke Youtube (Mobile Version) 

https://youtu.be/03vweb_6668

Mungkin itu dulu sharing kali ini mengenai konten digital 🙏.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar