Bagaimana persiapan kita (guru) dalam menyongsong AKM yang akan dimulai tahun ini.
Sudah terbiasakah murid-murid kita?
Sudahkah jadi budaya pembelajaran dan penilaian kita?
AKM adalah asesmen/penilaian hasil belajar. Misalnya, untuk kelas 5 (yang akan dilaksanakan pada Agustus 2021) berarti konten konseptualnya meliputi materi kelas 4 dan sebelumnya.
Pada Guru Belajar seri AKM guru akan ikut melatih Literasi, selain itu latihan juga membuat soal-soal AKM sesuai level-level dan diberikan contoh soal-soalnya.
AKM berbeda dari UN yang selama ini diterapkan, AKM tidak menilai prestasi individu siswa, juga tidak memetakan peringkat individu siswa, sekolah, maupun daerah, melainkan memotret mutu pembelajaran di sekolah dan kelas. Hasil AKM dipakai sebagai cermin untuk melihat kelebihan dan kekurangan sekolah dalam mengelola pembelajaran.
AKM tidak dipakai sebagai alat untuk menjatuhkan vonis siswa naik kelas/lulus atau tidak naik kelas/lulus, melainkan memotret tingkat keterampilan berpikir siswa. Yang diukur tingkat keterampilan berpikir, bukan penguasaan materi pelajaran. Oleh karena itu, komponen AKM hanya literasi membaca dan literasi numerasi/matematik.
Seperti asesmen diagnostik. Ini sebenarnya ilmu abadi, bahwa sebelum mengajar, guru mesti mengetahui kecakapan awal siswa. Hanya saja, praktik pendidikan kita sudah dan sedang (semoga tidak akan selalu) mengkhianati ilmu pendidikan.
Asesmen nasional sendiri terdiri dari tiga bagian yaitu
1. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM),
2. Survei Karakter
3. Survei Lingkungan Belajar.
Diterapkannya kebijakan ini merupakan penanda perubahan paradigma evaluasi pendidikan dan peningkatan sistem evaluasi pendidikan.
Tujuan utamanya mendorong perbaikan mutu pembelajaran dan hasil belajar peserta didik.
Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) adalah kompetensi yang benar-benar minimum, dimana melalui AKM kita bisa memetakan sekolah-sekolah di daerah berdasarkan kompetensi minimum yang harus dipersiapkan.
Kompetensi Minimun adalah kompetensi dasar yang dibutuhkan murid untuk bisa belajar, apapun materinya dan apapun mata pelajarannya. Sehingga materi AKM ada dua yaitu terkait literasi atau baca tulis, serta literasi numerasi.
Literasi yang dimaksudkan di sini bukan sekedar kemampuan membaca, tapi juga kemampuan menganalisis suatu bacaan serta kemampuan untuk mengerti atau memahami konsep di balik tulisan tersebut.
Sedangkan numerasi adalah kemampuan menganalisis menggunakan angka. Serta menekankan literasi dan numerasi bukan tentang mata pelajaran bahasa atau matematika, melainkan kemampuan murid agar dapat menggunakan konsep literasi ini untuk menganalisa sebuah materi.
AKM dan Survei Karakter terdiri dari soal-soal yang mengukur kemampuan bernalar menggunakan bahasa, kemampuan bernalar menggunakan numerasi, dan penguatan pendidikan karakter.
AKM dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar kognitif yaitu literasi dan numerasi.
Kedua aspek kompetensi minimun ini, lanjutnya, menjadi syarat bagi peserta didik untuk berkontribusi di dalam masyarakat. Terlepas dari bidang kerja dan karir yang ingin mereka tekuni di kemudian hari.
Substansinya, AKM sama sekali berbeda dari UN.
Kesan bahwa AKM adalah pengganti UN sempat muncul lantaran dulu Mas Menteri sempat menyatakan bahwa UN akan ditidakan mulai 2021 (yang ternyata dimajukan oleh Covid pada 2020 kemarin) dan sebagai gantinya nanti akan diselenggarakan AKM.
Dilain hal katanya, K-13 itu menuntut guru menginspirasi murid, bukan menggurui. Bukunya bagaimana?
Katanya, K-13 itu mendorong siswa untuk belajar dari berbagai sumber, tidak terpaku pada guru dan buku tunggal. Kalau bukunya sendiri meninabobokan siswa dengan one-stop learning, bagaimana?
Beberapa contoh isi buku siswa (K-13) tadi adalah wajah K-13 yang selalu memprihatinkan.
Mestinya (haha, seperti pakar saja!) buku itu berisi resep-resep untuk mencari, mengolah, dan mengonstruksi pengetahuan; bukan malah berisi "fast food" pengetahuan. Itu kalau benar K-13 memakai pendekatan saintifik.
Teka-tekinya = pertanyaan di baris paling atas itu: konsep apa yang hendak saya ajarkan (dengan menyajikan tiga kalimat [sebagai fakta] tersebut)?
Di buku (termasuk buku siswa K-13, kelas berapa saya lupa) biasanya begini konstruksinya:
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada awal kalimat.
Contoh:
1) Ibu mencangkul di ladang.
2) Ayah memasak bakmi goreng.
3) Adik menambal ban sepeda.
Seperti itukah,,,
Jika ya, pelajaran akan cepat selesai. Anak-anak cepat tahu. Terus siap-siap ulangan.
Namun, dikhawatirkan (dan sudah terjadi) mereka menjadi generasi instan. Mendapatkan pengetahuan instan, mendapatkan nilai bagus instan, mendapatkan sekolah favorit instan, mendapatkan titel instan.
Giliran mendapatkan masalah, ... berlarut-larut tak kunjung menemukan solusi. Apa sebab? Kurang terbiasa berpikir analitis.
Pada akhirnya...
UNTUK MENYONGSONG AKM, TIDAK ADA JALAN LAIN KECUALI MEMBENAHI PROSES PEMBELAJARAN KITA.
AKM itu penilaian kognitif HOTS. Adalah kesalahan besar jika anak-anak diantarkan ke asesmen HOTS lewat jalan pembelajaran LOTS.





