Minggu, 15 November 2020

EFFECTIVE CROSS CULTURAL COMMUNICATION

EFFECTIVE CROSS CULTURAL COMMUNICATION

Pada kesempatan ini saya akan sharing mengenai :

Effective Cross Cultural Communication

✨💦✨

Maaf judulnya masih B.Inggris, karena klo saya bahasa Indonesiakan khawatir saya akan memberi translate yang kurang pas. 😃

Jadi saya biarkan judulnya begitu, kita akan perjelas pada nanti.

Pertama-tama, saya ingin menyampaikan pendapat berkenaan dengan Perbedaan Budaya yang ada di sekolah tempat saat ini.

Apakah ada perbedaan budaya yang mencolok?

Apakah perbedaan budaya itu memiliki imbas kurang baik pada iklim atau suasan kerja

Dan bagaimana cara pihak sekolah untuk menyingkapi perbedaan-perbedaan?

Sharing kali ini adalah berkenaan dengan Effective Cross Cultural Communication ...

dan kita akan sedikit mengurai dan mendalami mengenai bagaimana mengefektifkan komunikasi di tempat kerja, dengan kondisi perbedaan budaya dari tiap-tiap individu yang ada di dalamnya.

Jadi kita memfokuskan CCC pada perbedaan yang disebabkan oleh perbedaan budaya, latar belakang, kepercayaan dan cara berkomunikasi dari tiap-tiap individu.

Kita perlu memahami CCC untuk bisa meningkatkan efektifitas di lingkungan kerja kita.

Memahami CCC di tempat kerja akan memberikan benang merah dan mempermudah kita untuk saling berkoordinasi dan bekerjasama dengan rekan kerja kita.

Konflik internal sangat mungkin terjadi karena perbedaan budaya dan kepercayaan .

Masing-masing individu perlu memahami bahwa rekan yang lain mungkin memiliki budaya dan kepercayaan yang berbeda.

Dengan adanya sikap saling memahami ini, maka kemungkinan terjadinya konflik internal akan bisa diminimalisir.

Setiap organisasi atau lembaga, perlu memperhatikan perbedaan budaya ini.
Karena sekecil apapun konflik yang terjadi, akan mempengaruhi organisasi.

Karena itulah, maka harus diantisipasi dari awal.

Jangan menganggap bahwa CCC adalah hal simple yang bisa dianggap remeh.

Seperti kalau lihat berita tawuran hanya karena ada orang yang tersinggung karena ucapan atau tingkah laku seseorang 🙈

Dan kalau terjadi di organisasi, bisa berantakan organisasinya.

Ada beberapa hal yang menyebabkan konflik internal akibat CCC, antara lain:

1. Kurangnya pemahaman tentang budaya rekan yang lain.

Memang kita tidak mungkin tau semuanya, tapi setidaknya kita belajar dan berusaha memahami.

Contoh:

Orang Jawa, dipanggil "mbak" itu biasa.

Tetapi saat saya di Batam, ada rekan guru saya yang tersinggung saat ada orang lain yang memanggilnya "mbak".

Tau kenapa?

Teman saya itu sudah lama tinggal di Batam, dan ternyata, di Batam, panggilan mbak itu lebih sering untuk pembantu tumah tangga 😁

Itu hanya contoh kecil.

2. Ethnocentrism. Merasa lebih baik dari yang lain.

Ini pemikiran perusak persatuan dan kedamaian 😁

3. Adanya kesalahpahaman dalam mengartikan bahasa.

Kita bisa membantu memperjelas maksud kita dengan menggunakan gesture.

Tapi itupun tetap harus kita pelajari.

Apakah kita pernah melihat ada orang yang diam-diam tersenyum saat kita melakukan sesuatu?

Jangan langsung tersinggung.

Karena mungkin saja diam-diam orang tsb mengagumi kita dan bukan karena ingin meledek apa yang kita lakukan 😁

Intinya, jangan terlalu sensitif.

Dan berusaha mencampurkan gesture positif agar rekan lain memahami maksud kita, dan menekan buruk sangka.

🌷🌷🌷💕🌷🌷

Kemudian, bagaimana untuk memingkatkan CCC, agar positifnya lebih besar daripada negatifnya: 💕💕🌷

Pertama, kita harus memahami diri kita sendiri dan budaya kita sendiri.

contohnya tadi, saya nggak akan ikutan tersinggung dipanggil mbak (saat di Batam).

Dan saya akan berpositif thinking bahwa kata mbak yang disampaikan bukan untuk merendahkan saya.

Kedua, memahami siapa yang kita ajak berkomunikasi.

contoh, 

Menyebut mbak itu kalau di Jawa sebenarnya lebih menuakan dan menghargai lawan bicara (wanita yang lebih tua). 

Jadi itu sopan.

Tapi ... saat saya ada di Batam dan tau bahwa di sana ada pembiasaan lain dengan kata itu, jangan pernah menggunakan kata itu.

Lebih baik meninggikan semua orang dengan menyebutnya Ibu.

Ketiga, bangun kepercayaan.

Saat kita sudah percaya bahwa orang yang di depan kita adalah orang yang sangat mengahargai kita, kita tidak akan tersinggung dengan ucapannya.

Contoh:

Bagaimana rasanya klo tiba-tiba disebut "Bu Cerewet" oleh orang tak dikenal?

Pasti marah.

Tersinggung.

Mengerutkan dahi.

Tapi beda klalau yang menyebut adalah orang yang kita kenal.

Yang kita tau bahwa kita sering bercanda dengannya.

Karena itulah, kita hendaknya membangun kedekatan dulu, baru memutuskan untuk menggunakan bahasa-bahasa berbeda dalam bercanda 😁💕

Keempat, jangan menggunakan bahasa atau frase, idiom, peribahasa dll yang tidak dimengerti oleh orang lain.

Kelima, hati-hati dengan body language.

Pernahkah kita memanggil anak dengan melambaikan tangan?

Bisa dibayangkan kalau kita memanggil rekan guru lain dengan seperti itu.

Atau ...

kalau berani, memanggil pengawas sekolah dengan seperti itu 😁😁😅

Keenam, jadilah pembelajar.

Budaya adalah sesuatu yang tidak habis untuk dipelajari dan dipahami.

Kesimpulannya ...

Memahami Cross Cultural Communication sangatlah penting untuk memberikan dampak positif di ketentraman, kedamaian dan kenyamanan lingkungan kerja kita..

Semoga kita semua diberi kemudahan dalam belajar dan menuntut ilmu ... diberi kesempatan untuk terus mengembangkan diri ... agar kita dapat selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anak didik kita. aamiin ... 💕💕