Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Ibu-ibu sekalian yang dirahmati Allah SWT,
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, manusia yang mencintai kita jauh sebelum kita dilahirkan, dan tetap mencintai kita bahkan saat nyawa akan berpisah dari raga beliau.
Hari ini, mari kita buka hati kita untuk menyelami momen yang paling memilukan namun penuh cinta dalam sejarah Islam, yaitu Detik-Detik Terakhir Menjelang Wafatnya Rasulullah SAW. Materi ini bukan sekadar sejarah, melainkan pengingat betapa besar kasih sayang dan pengorbanan Rasulullah yang terus memikirkan kita, umatnya, hingga hembusan napas terakhirnya.
Perjuangan di Balik Rasa Sakit
Menjelang wafatnya, Rasulullah SAW mengalami sakit demam yang sangat hebat. Dalam sebuah riwayat, suhu tubuh beliau terasa dua kali lipat lebih panas dari orang biasa. Meskipun begitu, beliau masih memaksakan diri untuk mengimami shalat di masjid selama beliau mampu.
Ketika tubuh beliau sudah terlalu lemah untuk berdiri, beliau meminta Abu Bakar as-Siddiq untuk menggantikan posisi beliau. Namun, kasih sayang beliau kepada umat tidak padam; beliau tetap ingin melihat umatnya bersatu dalam ketaatan.
Pesan Terakhir: Shalat dan Orang-orang Lemah
Di saat-saat kritis, di mana biasanya manusia hanya memikirkan diri sendiri atau harta bendanya, lisan Rasulullah SAW tidak berhenti membisikkan sebuah wasiat penting. Beliau mengulang-ulang kalimat:
> "Ash-shalaah, ash-shalaah, wa maa malakat aimaanukum"
> "(Jagalah) shalat, (jagalah) shalat, dan tunaikanlah kewajibanmu terhadap orang-orang yang menjadi tanggunganmu (hamba sahaya/orang lemah)."
Beliau sangat khawatir jika setelah kepergian beliau, umatnya melalaikan hubungan dengan Allah (shalat) dan berbuat zalim kepada sesama.
"Ummatii... Ummatii..." (Umatku... Umatku...)
Momen yang paling menyentuh hati adalah ketika Malaikat Maut datang menjemput. Saat merasakan pedihnya sakaratul maut, Rasulullah bertanya kepada Jibril, "Wahai Jibril, apakah sepedih ini sakaratul maut itu?"
Jibril menjawab, "Benar ya Rasulullah."
Lalu Rasulullah memohon kepada Allah sebuah permintaan yang luar biasa:
> "Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua sakaratul maut umatku kepadaku, jangan kepada umatku."
Bahkan di ambang maut, beliau tidak meminta keringanan untuk dirinya sendiri. Beliau ingin menanggung rasa sakit kita agar kita tidak merasakannya. Hingga akhirnya, kalimat terakhir yang keluar dari lisan mulia beliau bukanlah nama keluarga, melainkan: "Ummatii... Ummatii... Ummatii..." (Umatku... Umatku... Umatku...).
Dalil Penguat Kasih Sayang Rasulullah
1. Dalil Al-Qur'an (Surat At-Taubah: 128)
Allah SWT menggambarkan betapa berat beban yang kita pikul terasa oleh beliau:
Artinya: "Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin."
2. Dalil Hadits (HR. Muslim)
Tentang doa beliau yang disimpan khusus untuk kita di akhirat kelak:
Artinya: "Setiap Nabi memiliki doa yang mustajab (pasti dikabulkan). Setiap Nabi telah menyegerakan doanya (di dunia), namun aku menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku di hari kiamat."
Penutup dan Refleksi
Ibu-ibu yang dirahmati Allah,
Betapa malunya kita jika cinta yang sedemikian besar dari Rasulullah kita balas dengan kelalaian. Beliau wafat dengan mengkhawatirkan shalat kita, akhlak kita, dan keselamatan kita.
Bagaimana cara kita membalas cinta beliau?
* Menghidupkan sunnahnya di rumah dan di sekolah.
* Memperbanyak shalawat.
* Menjaga wasiat terakhir beliau: Shalat dan kepedulian pada sesama.
Semoga kisah ini menyalakan kembali api kerinduan kita kepada Rasulullah SAW dan memotivasi kita untuk menjadi guru serta ibu yang mencintai umat sebagaimana beliau mencintai kita.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.