Senin, 28 Desember 2020

Quantum Learning

 Pembelajaran kuantum merupakan terjemahan dari bahasa asing yaitu quantum learning. “Quantum Learning  adalah kiat, petunjuk, strategi dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat” (Bobbi DePorter & Mike Hernacki, 2011:16 ).

Pembelajaran kuantum dapat dikatakan sebagai model pembelajaran yang menekankan untuk memberikan manfaat yang bermakna dan juga menekankan pada tingkat kesenangan dari peserta didik atau siswa.

Selanjutnya, Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:30) mengungkapkan mengenai karakterisitik dari pembelajaran kuantum (quantum learning) yaitu sebagai berikut.

Pembelajaran kuantum berpangkal pada psikologi kognitif, bukan fisika kuantum meskipun serba sedikit istilah dan konsep kuantum dipakai.

Pembelajaran kuantum lebih bersifat humanistis, bukan positivistis-empiris, “hewan-istis”, dan atau nativistis.

Pembelajaran kuantum lebih bersifat konstruktivis(tis), bukan positivistis-empiris, behavioristis, dan atau maturasionistis.

Pembelajaran kuantum berupaya memadukan (mengintegrasikan), menyinergikan, dan mengkolaborasikan faktor potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran.

Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan sekadar transaksi makna.

Pembelajaran kuantum sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi.

Pembelajaran kuantum sangat menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran, bukan keartifisialan atau keadaan yang dibuat-buat.

Pembelajaran kuantum sangat menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran.

Pembelajaran kuantum memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang menggairahkan atau mendukung, dan rancangan belajar yang dinamis.

Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada pembentukan keterampilan akademis, keterampilan (dalam) hidup, dan prestasi fisikal atau material.

Pembelajaran kuantum menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses pembelajaran.

Pembelajaran kuantum mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban.

Pembelajaran kuantum mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran.


Tujuan

Menurut Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:12) adapun tujuan dari pembelajaran kuantum (quantum learning) adalah sebagai berikut.

Untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif.

Untuk menciptakan proses belajar yang menyenangkan.

Untuk menyesuaikan kemampuan otak dengan apa yang dibutuhkan oleh otak.

Untuk membantu meningkatkan keberhasilan hidup dan karir.

Untuk membantu mempercepat dalam pembelajaran

Tujuan tersebut,mengindikasikan bahwa pembelajaran kuantum mengharapkan perubahan dari berbagai bidang mulai dari lingkungan belajar yaitu kelas, materi pembelajaran yang menyenangkan, menyeimbangkan kemampuan otak kiri dan otak kanan, serta mengefisienkan waktu pembelajaran.

Lingkungan belajar dalam pembelajaran kuantum terdiri dari lingkungan mikro dan lingkungan makro. Lingkungan mikro adalah tempat siswa melakukan proses belajar, bekerja, dan berkreasi. Lebih khusus lagi perhatian pada penataan meja, kursi, dan belajar yang teratur. Lingkungan makro yaitu dunia luas, artinya siswa diminta untuk menciptakan kondisi ruang belajar di masyarakat. Mereka diminta berinteraksi sosial ke lingkungan masyarakat yang diminatinya, sehingga kelak dapat berhubungan secara aktif dengan masyarakat.

Pembelajaran kuantum sangat memperhatikan pengkondisian suatu kelas sebagai lingkungan belajar dari peserta didik mengingat model pembelajaran kuantum merupakan adaptasi dari model pembelajaran yang diterapkan di luar negeri.

Bobbi DePorter,et al., (2004:14) menyatakan mengenai lingkungan dalam konteks panggung belajar. “Lingkungan yaitu cara guru dalam menata ruang kelas, pencahayaan warna, pengaturan meja dan kursi, tanaman, musik, dan semua hal yang mendukung proses belajar”


Keunggulan dan Kelemahan Model pembelajaran Kuantum (Quantum Learning)

Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:18-19) dalam bukunya yang berjudul ”Quantum Learning” juga menjelaskan mengenai keunggulan dan kelemahan dari pembelajaran kauntum (quantum learning) yaitu sebagai berikut.

Keunggulan

Pembelajaran kuantum berpangkal pada psikologi kognitif, bukan fisika kuantum meskipun serba sedikit istilah dan konsep kuantum dipakai.

Pembelajaran kuantum lebih bersifat humanistis, bukan positivistis-empiris, “hewan-istis”, dan atau nativistis.

Pembelajaran kuantum lebih konstruktivis(tis), bukan positivistis-empiris, behavioristis.

Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan sekedar transaksi makna.

Pembelajaran kuantum sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi.

Pembelajaran kuantum sangat menentukan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran, bukan keartifisialan atau keadaan yang dibuat-buat.

Pembelajaran kuantum sangat menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran.

Pembelajaran kuantum memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran.

Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada pembentukan keterampilan akademis, keterampilan (dalam) hidup, dan prestasi fisikal atau material.

Pembelajaran kuantum menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses pembelajaran.

Pembelajaran kuantum mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban.

Pembelajaran kuantum mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran.

Kelemahan

Membutuhkan pengalaman yang nyata

Waktu yang cukup lama untuk menumbuhkan motivasi dalam belajar

Kesulitan mengidentifikasi keterampilan siswa

Berdasarkan pemaparan keunggulan dan kelemahan pembelajaran kuantum, pembelajaran kauntum sangat memperhatikan keaktifan serta kreatifitas yang dapat dicapai oleh peserta didik. Pembelajaran kuantum mengarahkan seorang guru menjadi guru yang “baik”. baik dalam arti bahwa guru memiliki ide-ide kreatif dalam memberikan proses pembelajaran, mengetahui dengan baik tingkat kemampuan siswa.


Prinsip Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Learning)

Adapun prinsip-prinsip pembelajaran kuantum (quantum learning ) adalah sebagai berikut.

Prinsip utama pembelajaran kuantum berbunyi: Bawalah Dunia Mereka (Pembelajar) ke dalam Dunia Kita (Pengajar), dan Antarkan Dunia Kita (Pengajar) ke dalam Dunia Mereka (Pembelajar).

Dalam pembelajaran kuantum juga berlaku prinsip bahwa proses pembelajaran merupakan permainan orchestra simfoni.

Prinsip-prinsip dasar ini ada lima macam berikut ini :

Ketahuilah bahwa segalanya berbicara

Dalam pembelajaran kuantum, segala sesuatu mulai lingkungan pembelajaran sampai dengan bahasa tubuh pengajar, penataan ruang sampai guru, mulai kertas yang dibagikan oleh pengajar sampai dengan rancangan pembelajaran, semuanya mengirim pesan tentang pembelajaran.

Ketahuilah bahwa segalanya bertujuan

Semua yang terjadi dalam proses pengubahan energy menjadi cahaya mempunyai tujuan

Sadarilah bahwa pengalaman mendahului penamaan

Poses pembelajaran paling baik terjadi ketika pembelajar telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh makna untuk apa yang mereka pelajari.

Akuilah setiap usaha yang dilakukan dalam pembelajaran

Pembelajaran atau belajar selalu mengandung risiko besar.

Sadarilah bahwa sesuatu yang layak dipelajari layak pula dirayakan

Segala sesuatu dipelajari sudah pasti layak pula dirayakan keberhasilannya.

Dalam pembelajaran kuantum juga berlaku prinsip bahwa pembelajaran lurus berdampak bagi terbentuknya keunggulan

pembelajaran perlu diartikan sebagai pembentukan keunggulan. Oleh karena itu, keunggulan ini bahkan telah dipandang sebagai jantung fondasi pembelajaran kuantum

Selain membahas mengenai prinsip model pembelajaran kuantum (quantum learning)  juga  kunci keunggulan yang diyakini dalam pembelajaran kuantum yaitu sebagai berikut.

sebelum saya meneruskan materi nya kajilah diri kita sejauhmana kita sudah memberikan ke anak didik

kalau saya analaisa quantum learning sarana untuk mengkaji diri kita udah sejauh mana kita ini memberikan ke anak didik,kita bawa mereka alam kita


Teraplah Hidup dalam Integritas

Dalam pembelajaran, bersikaplah apa adanya, tulus, dan menyeluruh yang lahir ketika nilai-nilai dan perilaku kita menyatu.

Akuilah Kegagalan Dapat Membawa Kesuksesan

Dalam pembelajaran, kita harus mengerti dan mengakui bahwa kesalahan atau kegagalan dapat memberikan informasi kepada kita yang diperlukan untuk belajar lebih lanjut sehingga kita dapat berhasil.

Berbicaralah dengan Niat Baik

Dalam pembelajan, perlu dikembangkan keterampilan berbicara dalam arti positif dan bertanggung jawab atas komunikasi yang jujur dan langsung.

Tegaskanlah Komitmen

Dalam pembelajaran, baik pengajar maupun pembelajar harus mengikuti visi-misi tanpa ragu-ragu, tetap pada rel yang telah ditetapkan.

Jadilah Pemilik

Dalam pembelajaran harus ada tanggung jawab. Tanpa tanggung jawab tidak mungkin terjadi pembelajaran yang bermakna dan bermutu.

Tetaplah Lentur

Dalam pembelajaran, pertahanan kemampuan untuk mengubah yang sedang dilakukan untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Pembelajar lebih-lebih , harus pandai-pandai membaca lingkungan dan suasana, dan harus pandai-pandai mengubah lingkungan dan suasana bilamana diperlukan.

Pertahankanlah Keseimbangan

Dalam pembelajaran, pertahanan jiwa, tubuh, emosi, dan semangat dalam satu kesatuan dan kesejajaran agar proses dan hasil pembelajaran efektif dan optimal.


Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari pembelajaran kuantum

Sikap positif

Motivasi

Keterampilan belajar seumur hidup

Kepercayaan diri

Sukses


Sintaks atau langkah model pembelajaran kuantum (quantum learning) yang dikenal dengan sebutan TANDUR


Tumbuhkan

Tumbuhkan minat dengan memuaskan “Apakah Manfaatnya BagiKu” (AMBAK), dan manfaatkan kehidupan belajar.


Alami

Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar.


Namai

Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi, sebuah “masukan”.


Demonstrasikan

Sediakan kesempatan bagi pelajar untuk “menunjukkan bahwa mereka tahu”.


Ulangi

Tunjukkan pelajar cara-cara mengulang materi dan menegaskan, “Aku tahu bahwa aku memang tahu ini”.


Rayakan

Pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan.


Perayaan dalam pembelajaran kuantum sangat diutamakan atau sangat penting. Perayaan dapat membangun keinginan untuk sukses dalam pembelajaran. terdapat beberapa bentuk perayaan menyenangkan yang biasa digunakan yaitu


Tepuk Tangan

Teknik ini terbukti tidak pernahh gagal memberikan inspirasi.


Hore! Hore! Hore!

Cara ini sangat mengasyikkan jika dilakukan “bergelombang” ke seluruh ruangan. Caranya adalah guru memberikan aba-aba, semua orang atau siswa melompat berdiri dan berteriak senyaring mungkin, “Hore, Hore, Hore!” sambil mengayunkan tangan ke depan dank e atas.


Wussss

Jika diberi aba-aba, semua orang bertepuk tangan tiga kali secara serentak, lalu mengirimkan segenap energi positif mereka kepada orang yang dituju. Cara melakukannya adalah setelah bertepuk, tangan mendorong kea rah orang tersebut sambil berteriak “Wusssss”.


Jentikan Jari

Jika guru atau pengajar memerlukan pengakuan yang tenang, daripada tepuk tangan, gunakan jentikan jari berkesiinambungan.


Poster Umum

Mengakui individu atau seluruh kelas, misalnya “Kelas Enam The Best!.


Catatan Pribadi

Sampaikan kepada siswa secara perseorangan untuk mengakui usaha keras, sumbangan pada kelas, perilaku atau tindakan yang baik hati.


Persekongkolan

Mengakui seseorang secara tak terduga. Misalnya seluruh kelas dapat bersekongkol untuk mengakui kelas lain dengan cara memasang poster positif (atau surat) misterius yang bertuliskan hal-hal seperti “Kelas VI hebat lho!” atau “Selsangat Menempuh Ujian hari Ini!”.


Kejutan

Kejutan harus terjadi secara acak. Kejutan bukan merupakan hadiah yang diharapkan oleh siswa. Jadikan kejutan tetap sebagai kejutan!.


Pengakuan Kekuatan

Lakukan jika menginginkan orang mendapatkan pengakuan, setelah mereka saling mengenal dengan baik. Cara melakukan adalah atur siswa untuk duduk membentuk tapak kuda, dengan satu kursi (kursi jempol) di bagian terbuka tapal. Setiap orang bergiliran menduduki kursi jempol. Siswa pada kursi jempol tersebut duduk diam sambil mendengarkan dan memperhatikan. Setiap siswa dalam tapal mengakui kekuatan istimewa atau sifat-sifat baik dari siswa yang duduk di kursi jempol. Guru dapat memberikan contoh hingga murid-murid tahu cara melanjutkannya.

Apakah motode quantum bisa untuk tingkat SD..

Bisa, karena diSDkan ada  PAKEM ini sejenis quantum learning

quantum learning menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar, dan NLP dengan teori, keyakinan, dan metode tertentu. Termasuk konsep-konsep kunci dari teori dan strategi belajar, seperti: teori otak kanan/kiri, teori otak triune (3 in 1), pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestik), teori kecerdasan ganda, pendidikan holistik, belajar berdasarkan pengalaman, belajar dengan simbol (metaphoric learning), simulasi/permainan.

Inilah Program Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) Yang Perlu Guru Ketahui dan Ikuti

Inilah Program Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) Yang Perlu Guru Ketahui dan Ikuti

Kali ini, saya akan berbagi informasi tentang Program Guru Belajar Seri AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.


Sebelumnya, perlu disampaikan bahwa tujuan saya membagikan informasi ini adalah agar informasi tentang Program Guru Belajar Seri AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) dapat tersebar lebih luas dan diketahui oleh sebanyak-banyaknya guru atau pendidik di seluruh Indonesia, sehingga dapat mengikutinya.

Apa sih program Guru Belajar seri Asesmen Kompetensi Minimum itu?

Dikutip dari laman gurubelajar.kemdikbud.go.id, program Guru Belajar seri Asesmen Kompetensi Minimum merupakan program pembelajaran yang dirancang untuk membantu para Guru/Kepala Sekolah/Pengawas SD, SMP, SMA/SMK dan PKBM sederajat dalam memahami tujuan, konsep dan bentuk pelaksanaan Asesmen Nasional, serta dapat menganalisis contoh asesmen literasi membaca dan numerasi pada Asesmen Kompetensi Minimum.

Berikut ini hal-hal penting berkaitan dengan Program Guru Belajar Seri AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) yang dikutip dari laman gurubelajar.kemdikbud.go.id.

TUJUAN

Tujuan program Guru Belajar seri Asesmen Kompetensi Minimum adalah sebagai berikut.
  • Memahami konsep Asesmen Nasional.
  • Memahami bentuk pelaksanaan Asesmen Nasional.
  • Menganalisis contoh asesmen literasi membaca pada Asesmen Kompetensi Minimum.
  • Menganalisis contoh asesmen numerasi pada Asesmen Kompetensi Minimum.
  • Membaca dan menindaklanjuti laporan hasil Asesmen Kompetensi Minimum.
  • Melakukan pengimbasan dengan mengajak rekan guru yang lain untuk mengikuti program Guru Belajar seri Asesmen Kompetensi Minimum.
POLA

Serunya belajar bersama di program Guru Belajar seri Asesmen Kompetensi Minimum adalah sebagai berikut.

1. Lebih Fleksibel
Anda dapat mengatur sendiri waktu belajar menyesuaikan waktu luang anda.

2. Lebih Mudah
Anda lebih mudah mempelajari konten pembelajaran yang telah dirancang sedemikian rupa menjadi unit belajar yang lebih kecil.

3. Lebih Kolaboratif
Anda dapat belajar dengan rekan lainnya, dengan guru, kepala sekolah, dan juga pengawas, bahkan dari PKBM juga bisa belajar bersama-sama.

TAHAPAN

Tahapan program Guru Belajar seri Asesmen Kompetensi Minimum adalah sebagai berikut.

1. Tahap 1: Bimtek
Pada tahap ini peserta terlebih dahulu mengikuti Orientasi yang membekali peserta mengenai latar belakang, tujuan umum, kebijakan dan alur program Guru Belajar seri Asesmen Kompetensi Minimum. Pada tahap Bimtek, peserta akan mengikuti pembelajaran mengenai konsep Asesmen Nasional, konsep Asesmen Kompetensi Minimum, butir soal literasi membaca dan numerasi, serta membaca dan menindaklanjuti hasil Asesmen Kompetensi Minimum dalam kurun waktu selama 5 (lima) hari.

2. Tahap 2: Pengimbasan
Peserta diharapkan dapat menjadi bagian perubahan pendidikan dengan cara mengajak dan mendampingi guru lain di satuan pendidikan peserta untuk mengikuti Program Guru Belajar seri Asesmen Kompetensi Minimum. Peserta mendokumentasikan video pengimbasan dan mengunggah video tersebut pada kanal video berbagi (Youtube) dengan memasukkan link URL video tersebut sebagai syarat untuk mengunduh Piagam Penghargaan.

HASIL
Sumber gambar: gurubelajar.kemdikbud.go.id


Hasil yang didapatkan peserta program Guru Belajar seri Asesmen Kompetensi Minimum adalah sebagai berikut.
  • Pengalaman belajar yang seru.
  • Pengalaman belajar bersama sesama guru, kepala sekolah, pengawas, dan PKBM sederajat.
  • Pemahaman terhadap Asesmen Kompetensi Nasional.
  • Sertifikat Bimtek 32 JP dan Piagam Penghargaan.
PESERTA 
Sumber gambar: gurubelajar.kemdikbud.go.id


Yang dapat menjadi peserta program Guru Belajar seri Asesmen Kompetensi Minimum adalah sebagai berikut.
  • Semua Guru SD, SMP dan SMA/SMK.
  • Kepala Sekolah SD, SMP dan SMA/SMK.
  • Pengawas SD, SMP dan SMA/SMK.
  • Peserta yang berasal dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sederajat SD, SMP, SMA/SMK.
  • Telah memiliki Akun SIMPKB.

JADWAL PELAKSANAAN
Berikut ini adalah jadwal pelaksanaan program berdasarkan tahapannya.

Pendaftaran 
Mendaftar dengan memilih jadwal Bimtek yang tersedia
22 Desember 2020 - 23 Februari 2021

Bimtek
  • Angkatan 1: 4-8 Januari 2021
  • Angkatan 2: 9-13 Januari 2021
  • Angkatan 3: 14-18 Januari 2021
  • Angkatan 4: 19-23 Januari 2021
  • Angkatan 5: 24-28 Januari 2021
  • Angkatan 6: 29 Januari - 2 Februari 2021
  • Angkatan 7: 3-7 Februari 2021
  • Angkatan 8: 8-12 Februari 2021
  • Angkatan 9: 13-17 Februari 2021
  • Angkatan 10: 18-22 Februari 2021
  • Angkatan 11: 23-27 Februari 2021

Pengimbasan

Jadwal pengimbasan program Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum yaitu pada tanggal 9 Januari - 27 Februari 2021 (Semua Angkatan).

PENDAFTARAN 
 
Pendaftaran dilakukan melalui akun SIM PKB masing-masing atau klik https://sim-gurubelajar.simpkb.id/

Demikianlah informasi tentang Program Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Semoga bermanfaat.

Sumber: https://gurubelajar.kemdikbud.go.id/seri-asesmen-kompetensi-minimum/

Sabtu, 26 Desember 2020

Pembelajaran Kolaboratif Dengan Lesson Study

Pembelajaran Kolaboratif Dengan Lesson Study

Pembelajaran  kolaborasi sudah tidak asing lagi bagi kita. 

Pembelajaran dengan konsep bekerjasama biasanya sering di gunakan untuk menunjang kegiatan belajar dalam kelas maupun diluar kelas. Biasanya kegiatan kolaborasi dilakukan oleh siswa.

Untuk saat ini pembelajaran kolaborasi dianggap penting dalam proses pembelajaran.

Salah satu ciri pembelajaran abad 21 adalah kolaborasi dan interaksi/komunikasi.

Nah, kali ini yang berkolaborasi adalah guru..

Menarik, karena guru bersama-sama melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Bersama dalam mendesain perencanaan, pelaksanaan dan penilaian/evaluasi, dengan kegiatan LESSON STUDY.

Apa sih Lesson Study (LS) itu??

LS adalah model kegiatan guru untuk mengembangkan mutu dalam aktivitas kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru secara kolektif.

LS secara sederhana dapat disebutkan sebagai pengkajian terhadap pembelajaran.

LS bukanlah sebuah kegiatan sesaat namun kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan.

Sampai saat dimana indikator yang kita inginkan terpenuhi atau mendekati terpenuhi. Karena kegiatan ini dimaksudkan untuk memperbaiki proses dan hasil belajar.

Jadi pelaksanaan LS sangat membutuhkan energy yang kuat dari guru-guru  yang akan berkolaborasi.


Ada 3 yang dapat kita simpulkan :

1. LS pembinaan profesi

2. Pembelajaran kolaboratif

3. Membangun learning community

Fokus utama pelaksanaan LS adalah aktivitas siswa dalam kelas.  Aktivitas siswa tersebut berhubungan dengan materi atau KD yang sedang disampaikan oleh guru model.

Proses pembelajaran berlangsung seperti biasa, tampil apa adanya sesuai dengan rencana pembelajaran yang sudah dirancang. Proses pembelajaran yang tampil secara alami akan lebih dirasakan guru maupun siswa sehingga semua aspek yang akan diamati dapat ditangkap dengan lengkap dan mempermudah ketika di diskusikan dalam refleksi.

Di era pandemi skr ini bgm caranya agar LS tetap berjalan? Padahal PJJ yang trend diberlakukan.

PJJ tidak memungkinkan kita melaksanakan LS. Mudah mudahan setelah normal dapat kita laksanakan.

Ada beberapa tahapan pelaksanaan LS :

A. PERENCANAAN

1. Membentuk kelompok Lesson Study yang terdiri dari 3 atau lebih guru dengan mapel  yang sama. Dibantu oleh guru ahli  yang  memahami Lesson Study.

2. Menentukan 1 orang guru sebagai guru model.

3. Menyusun tugas dan komitmen bersama.

4. Menyusun jadwal pertemuan.

5. Menyepakati materi/KD 

6. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

7. Menyusun instrument dan aspek apa yang akan diamati

Tahapan PERENCANAAN adalah tahapan yang sangat menentukan kelancaran ke tahap berikutnya. Pada tahap ini,  semua guru yang terlibat pada pelaksanaan LS membuat komitmen bersama. Menyusun indikator –indikator apa yang akan menjadi objek pengamatan.

Objek pengamatan :

- Sikap dan prilaku kecendrungan belajar

- Motivasi 

- Keterampilan

- Pengetahuan

- dll

Indikator yang akan dijadikan objek pengamatan dituangkan dalam bentuk instrument pengamatan.

Pada tahapan 1, yang tidak kalah pentingnya adalah mempersiapkan GURU MODEL.

Guru Model adalah guru yang akan melaksanakan kegiatan belajar mengajar dalam kelas/luar kelas.


B. PELAKSANAAN

1. Melaksanakan pembelajaran dalam kelas oleh guru model.

2. Guru yang lain dan guru ahli (pakar) sebagai pengamat.

3. Dokumentasikan setiap prilaku siswa saat pembelajaran berlangsung.

4. Pengamat membuat catatan-catatan yang dianggap penting.

Tahapan PELAKSANAAN adalah tahapan pembelajaran berlangsung. Pada tahapan ini guru model melaksanakan KBM beperti biasa sesuai dengan RPP yang sudah dirancang bersama.

Sementara guru lain yang berkolaborasi berdiri atau duduk dibelakang kelas.

Tugas guru lain tentu mengamati, mencatat dan merekam setiap aktifitas siswa berupa prilaku, sikap, respon terhadap materi ajar yang disampaikan oleh guru model.

Sangat dianjurkan pelaksanaan LS hanya 3 - 4 guru saja. atau kalaupun lebih dari itu sisanya berada diluar kelas.

Guru yang bertugas sebagai pengamat, dapat mengamati interaksi siswa dengan siswa, siswa dengan guru model, siswa dengan materi pembelajaran.

Jadi, yang menjadi objek pengamatan adalah aktifitas siswa, bukan Guru Model.


C. REFLEKSI

1. Refleksi dari guru model.

2. Tanggapan  dari guru lain sebagai pengamat.

3. Presentasi dan diskusi tentang hasil pengamatan berdasarkan data yang dihimpun oleh guru pengamat dan ahli.

4. Tanggapan dan saran dari guru ahli.

5. Merencanakan pembelajaran tahap berikutnya.

Tahapan ini cukup penting untuk kegiatan LS berikutnya. Refleksi adalah umpan balik dari kegiatan LS yang dilaksanakan. Mendiskusikan semua aspek yang diamati. Refleksi bermanfaat untuk memetakan kelebihan dan kelemahan pelaksanaan LS sebelumnya. Sehingga pertemuan berikutnya jauh lebih baik.

Pada dasarnya hanya 3 tahapan dari kegiatan Lesson Study itu..

LS dilakukan lebih dari 1 kali karena guru yang berkolaborasi ingin mendapatkan grafik data  tentang indikator yang diamati.

LS sangat bermanfaat diera modern ini, dengan kompleksitas pembelajaran yang jauh lebih rumit, akan sangat terbantu dengan adanya kolaborasi.

Nah, ada 2 tahapan lagi yang harus guru tuntaskan demi sempurnanya pelaksanaan LS.


D. MENULIS LAPORAN

LS yang sudah dilaksanakan oleh guru harus didokumentasikan dalam bentuk laporan kegiatan.

Menulis laporan pelaksanaan LS adalah tahap terakhir, jika para guru yang berkolaborasi ingin mendokumentasikan hasil LS dalam bentuk laporan.

Laporan bisa dalam bentuk karya tulis, makalah atau penelitian. Masing-masing mempunyai kaidah dan tata cara penulisannya.

Aspek deviden dalam bentuk laporan kegiatan dan dokumen pelaksanaan kegiatan lainnya berperan penting sebagau bukti legal yang dapat dipertanggungjawabkan, dan bisa digunakan untuk karir guru.

Laporan LS bisa dijadikan publikasi ilmiah guru.

LS dapat dilaksanakan disekolah dengan sesama guru satu mapel, atau guru kelas. Bisa juga antar sekolah melalui KKG atau MGMP.

Pelaksanaan LS akan terasa berbeda kalau dilaksanakan dengan sekolah yang berbeda. misalnya, 3 sekolah berkolaborasi dan guru modelnya adalah guru yang mengajar di sekolah lain.


E. SEMINAR LAPORAN

Jika laporan dalam bentuk penelitian (PTK misalnya), maka harus diseminarkan. Tetapi kalau hanya dalam bentuk karya tulis biasa seperti makalah, atau untuk laporan kegiatan seandainya kegiatan  LS di danai oleh Dana Bos, maka tidak perlu diseminarkan.

Yang menjadi permasalahan ketika menentukan guru model di LS, 

Tidak semua orang mau membuka diri. Paling dia, lagi, dia lagi yang jadi guru modelnya?.

Kalau guru yang kreatif dlm mengajar pasti capaian hasil belajar, motivasi anak akan baik.

Sebagaimana kegiatan kolaborasi dapat memecahkan permasalah pembelajaran didalam kelas dengan aneka respon dan reaksi dari siswa ketika proses LS berlangsung.

Pengamatan tentu tidak 1 atau 2 kali saja,minimal 3 kali. Sehingga indikator yang dinginkan guru yang berkolaborasi dapat diamati dan didiskusikan solusinya.

Semoga setelah ini dapat ber Lesson Study. Bisa dengan sesama guru disekolah, atau antar sekolah melalui KKG/MGMP.

😔


Minggu, 15 November 2020

EFFECTIVE CROSS CULTURAL COMMUNICATION

EFFECTIVE CROSS CULTURAL COMMUNICATION

Pada kesempatan ini saya akan sharing mengenai :

Effective Cross Cultural Communication

✨💦✨

Maaf judulnya masih B.Inggris, karena klo saya bahasa Indonesiakan khawatir saya akan memberi translate yang kurang pas. 😃

Jadi saya biarkan judulnya begitu, kita akan perjelas pada nanti.

Pertama-tama, saya ingin menyampaikan pendapat berkenaan dengan Perbedaan Budaya yang ada di sekolah tempat saat ini.

Apakah ada perbedaan budaya yang mencolok?

Apakah perbedaan budaya itu memiliki imbas kurang baik pada iklim atau suasan kerja

Dan bagaimana cara pihak sekolah untuk menyingkapi perbedaan-perbedaan?

Sharing kali ini adalah berkenaan dengan Effective Cross Cultural Communication ...

dan kita akan sedikit mengurai dan mendalami mengenai bagaimana mengefektifkan komunikasi di tempat kerja, dengan kondisi perbedaan budaya dari tiap-tiap individu yang ada di dalamnya.

Jadi kita memfokuskan CCC pada perbedaan yang disebabkan oleh perbedaan budaya, latar belakang, kepercayaan dan cara berkomunikasi dari tiap-tiap individu.

Kita perlu memahami CCC untuk bisa meningkatkan efektifitas di lingkungan kerja kita.

Memahami CCC di tempat kerja akan memberikan benang merah dan mempermudah kita untuk saling berkoordinasi dan bekerjasama dengan rekan kerja kita.

Konflik internal sangat mungkin terjadi karena perbedaan budaya dan kepercayaan .

Masing-masing individu perlu memahami bahwa rekan yang lain mungkin memiliki budaya dan kepercayaan yang berbeda.

Dengan adanya sikap saling memahami ini, maka kemungkinan terjadinya konflik internal akan bisa diminimalisir.

Setiap organisasi atau lembaga, perlu memperhatikan perbedaan budaya ini.
Karena sekecil apapun konflik yang terjadi, akan mempengaruhi organisasi.

Karena itulah, maka harus diantisipasi dari awal.

Jangan menganggap bahwa CCC adalah hal simple yang bisa dianggap remeh.

Seperti kalau lihat berita tawuran hanya karena ada orang yang tersinggung karena ucapan atau tingkah laku seseorang 🙈

Dan kalau terjadi di organisasi, bisa berantakan organisasinya.

Ada beberapa hal yang menyebabkan konflik internal akibat CCC, antara lain:

1. Kurangnya pemahaman tentang budaya rekan yang lain.

Memang kita tidak mungkin tau semuanya, tapi setidaknya kita belajar dan berusaha memahami.

Contoh:

Orang Jawa, dipanggil "mbak" itu biasa.

Tetapi saat saya di Batam, ada rekan guru saya yang tersinggung saat ada orang lain yang memanggilnya "mbak".

Tau kenapa?

Teman saya itu sudah lama tinggal di Batam, dan ternyata, di Batam, panggilan mbak itu lebih sering untuk pembantu tumah tangga 😁

Itu hanya contoh kecil.

2. Ethnocentrism. Merasa lebih baik dari yang lain.

Ini pemikiran perusak persatuan dan kedamaian 😁

3. Adanya kesalahpahaman dalam mengartikan bahasa.

Kita bisa membantu memperjelas maksud kita dengan menggunakan gesture.

Tapi itupun tetap harus kita pelajari.

Apakah kita pernah melihat ada orang yang diam-diam tersenyum saat kita melakukan sesuatu?

Jangan langsung tersinggung.

Karena mungkin saja diam-diam orang tsb mengagumi kita dan bukan karena ingin meledek apa yang kita lakukan 😁

Intinya, jangan terlalu sensitif.

Dan berusaha mencampurkan gesture positif agar rekan lain memahami maksud kita, dan menekan buruk sangka.

🌷🌷🌷💕🌷🌷

Kemudian, bagaimana untuk memingkatkan CCC, agar positifnya lebih besar daripada negatifnya: 💕💕🌷

Pertama, kita harus memahami diri kita sendiri dan budaya kita sendiri.

contohnya tadi, saya nggak akan ikutan tersinggung dipanggil mbak (saat di Batam).

Dan saya akan berpositif thinking bahwa kata mbak yang disampaikan bukan untuk merendahkan saya.

Kedua, memahami siapa yang kita ajak berkomunikasi.

contoh, 

Menyebut mbak itu kalau di Jawa sebenarnya lebih menuakan dan menghargai lawan bicara (wanita yang lebih tua). 

Jadi itu sopan.

Tapi ... saat saya ada di Batam dan tau bahwa di sana ada pembiasaan lain dengan kata itu, jangan pernah menggunakan kata itu.

Lebih baik meninggikan semua orang dengan menyebutnya Ibu.

Ketiga, bangun kepercayaan.

Saat kita sudah percaya bahwa orang yang di depan kita adalah orang yang sangat mengahargai kita, kita tidak akan tersinggung dengan ucapannya.

Contoh:

Bagaimana rasanya klo tiba-tiba disebut "Bu Cerewet" oleh orang tak dikenal?

Pasti marah.

Tersinggung.

Mengerutkan dahi.

Tapi beda klalau yang menyebut adalah orang yang kita kenal.

Yang kita tau bahwa kita sering bercanda dengannya.

Karena itulah, kita hendaknya membangun kedekatan dulu, baru memutuskan untuk menggunakan bahasa-bahasa berbeda dalam bercanda 😁💕

Keempat, jangan menggunakan bahasa atau frase, idiom, peribahasa dll yang tidak dimengerti oleh orang lain.

Kelima, hati-hati dengan body language.

Pernahkah kita memanggil anak dengan melambaikan tangan?

Bisa dibayangkan kalau kita memanggil rekan guru lain dengan seperti itu.

Atau ...

kalau berani, memanggil pengawas sekolah dengan seperti itu 😁😁😅

Keenam, jadilah pembelajar.

Budaya adalah sesuatu yang tidak habis untuk dipelajari dan dipahami.

Kesimpulannya ...

Memahami Cross Cultural Communication sangatlah penting untuk memberikan dampak positif di ketentraman, kedamaian dan kenyamanan lingkungan kerja kita..

Semoga kita semua diberi kemudahan dalam belajar dan menuntut ilmu ... diberi kesempatan untuk terus mengembangkan diri ... agar kita dapat selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anak didik kita. aamiin ... 💕💕

Rabu, 21 Oktober 2020

Google Site

Mengelola Google Site Untuk Pembelajaran Daring 

Maka pada kesempatan ini, perkenankan saya membagikan pengalaman/ Sharing.
1.  Memahami salah satu fasilitas yang diberikan google secara free (ada yang bernayar, kita manfaatkan yang free saja) yaitu: Google Site
2.  Membuat situs di Google Site
3.  Membuat Judul Halaman dan halaman-halaman lainnya di GS
4.  Menguhubungkan halaman satu dengan halaman lain dalam Situs GS
5.  Mengisi GS dengan teks
6.  Mengisi GS dengan gambar
7.  Mengisi GS dengan Video
8.  Mengisi GS dengan Soal online
9.  Menghias GS
10.  Mempublikasikan GS (agar bisa digunakan oleh anak didik kita)
Karena materi cukup banyak, kita akan terangkan satu persatu , mohon Bapa Ibu bersabar.
Mohon disiapkan Lap top (jika menggunakan HP ubah tampilan menjadi destop; jika menggunakan Iphone,  tampilan GS tidak maksimal)

Materi pertama
Berkenalan dengan Google Site:

Google Sites adalah aplikasi wiki terstruktur untuk membuat situs web pribadi maupun kelompok, untuk keperluan personal maupun korporat[1]. Google Sites disiapkan sebagai pengganti dari Google Page Creator[1]. Situs yang dibuat akan memiliki alamat http://sites.google.com/site/username/
(https://id.wikipedia.org/wiki/Google_Sites)
Google Site, produk dari Google yang khusus dibuat untuk membuat website yang mudah dan simpel. Dengan Google Site, walaupun tidak memiliki kemampuan coding memadai, Anda sudah bisa membuat website Anda sendiri. Google Sites memungkinkan Anda membuat website yang dapat diakses di perangkat mobile dan desktop.

Untuk dapat menggunakan Google Sites, tak banyak syarat yang harus Anda penuhi. Cukup dengan akun Google yang Anda miliki, Anda sudah dapat membuat website menggunakan Google Sites.

Mengapa kita perlu mengenal Google Site?
Kelebihan / Keunggulan Google Sites
  Gratis
  Penggunaannya mudah
  Terintegerasi dengan perangkat Google lainnya
  Bagus untuk SEO
  Semua versi halaman dapat tersimpan
  Dapat menentukan akses ke situs dan iin yang diberikan pada pengguna
  Situs tersimpan aman di server Google
  Gratis penyimpanan online 100 MB
  Dapat menunjukkan bahwa blog yang kita buat berkualitas

Langkah yang kita lakukan : 
1.  Buka  Google 
2.  Pastikan kita sudah punya email  dengan @gmail, jika belum punya silakan membuat akun menggunakan @gmail
3.  Ketik google site pada brouwser enter
4.  Maka akan tampil Google Site kita
5.  Sebelum nya kita sudah merangcang halaman yang akan kita buat, misal
Judul Site :  Teks Editorial
a. Home (ini nanti berisi menu semua halaman yang kita buat)
b. Pendahuluan
c. Struktur Teks Editorial
d. Kebahasaan Teks Editorial
e. Soal Online
6.  Lihat pojok kanan bawah ada tanda + silakan mulai dengan klik tanda + (membuat situs baru)
7.  Sesudah kita klik tanda + di pojok kanan bawah
8.  Kita bisa mulai mengisi situs kita
9.  Untuk menyisipkan/memasukkan gambar dengan satu tulisan, dua gambar dengan dua tulisan  tiga gambar dengan tiga tulisan silakan klik menu yang ada di bagian kanan
10.  Sesudah kita mengisi halaman pendahuluan, kita akan membuat halaman berikutnya , dengan cara klik bagian menu Halaman (kanan atas) lalu klik tanda +, tulis nama halaman berikutnya sesuai materi yang akan diberikan.
11.  Kita bisa nemambah halaman sesuai rancangan yang sudah kita buat.
12.  Jika urutan halaman belum sama, silakan didrag, menu yangada di samping kanan, sesuai keinginan, bisa ke atas, ke bawah agar urutan sesuai dengan rancangan kita
13.  Nah kita bisa mengisi halaman tersebut dengan nenambahkan kalimat, atau gambar, atau gambar yang ada kalimatnya seperti yang sudah saya sampaikan di point 8 dan 9
14.  Menghias Site dengan memberi latar. Kita klik bagian yang akan kita hias maka akan muncul menu di sisi kiri, ada 4 pilihan
15.  Jika kita sudah mengisi halaman, sekarang kita akan membuat tombol di HOME dan di tiap halaman. Tombol digunakan untuk menghubungkan halaman satu dengan halaman lain.
a. Kita buka HOME
b. Klik sisipkan, scorl ke bawah akan ditemukan menu tombol
16.  Klik tombol, tulis semua judul halaman yang sudah dibuat (kecuali Home)
17.  Setiap halaman sesudah diisi dengan materi , diakhir halaman tersebut (bawah) ditambah dengan tombol 
a. Tombol kembali (BACK) dikaitkan dengan halam depannya
b. Tombol Selanjutnya (NEXT)  dikaitkan denganhalaman berikutnya
18.  Menyisipkan soal Online
a. Siapkan soal online yang sudah ada di CDrive kita
b. Klik soal kita, pilih kirim di kanan atas, dapatkan link nya
c. kembali ke site , buka halaman soal online, klik menu sematkan
d. pastekan alamat/link yang sudah kita copy
19.  Kita akan mempusblish  Site kita dan mendapatkan alamat site kita yang bisa kitt abagikan kepada orang lain.
a. buka halaman home
b. Klik publish, menu ada di pojok kanan atas

TERIMA KASIH
SELAMAT MENCOBA

Jumat, 02 Oktober 2020

Minggu, 27 September 2020

BLENDED LEARNING

Mengenal Pembelajaran BLENDED LEARNING

Model blended learning mulai banyak diterapkan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah karena dianggap mampu memfasilitasi kecepatan dan kebutuhan belajar peserta didik yang beragam.

Tapi apakah blended learning itu?

❤️❤️🌷

Secara ketatabahasaan, blended learning terdiri dari dua kata yaitu, blended dan learning.

Blended berarti “campuran, bersama untuk meningkatkan kualitas agar bertambah baik”.

Learning berasal dari learn yang artinya “belajar”.

Jika kita gabungkan, blended learning dapat diartikan sebagai campuran atau kombinasi dari pola pembelajaran satu dengan yang lainnya.

Pertanyaan lanjutannya adalah: 

Apa yang dicampur?

Apakah belajar serius dicampur dengan istirahat, jadi konsepnya belajar - istirahat - belajar - istirahat ?

Atau campuran yang lain?

😄😄

Bukan ini ya....

Yang disebut dengan Blended Learning adalah proses mencampur proses pembelajarannya.

Daring dan Luring.

Online dan tatap muka langsung.



Gambaran secara general mengenai Blended Learning.

Mari kita perhatikan bersama beberapa karakteristik Blended Learning.

Karakteristik pembelajaran ‘Blended Learning’, antara lain:

1). Model blended learning menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pendidikan, gaya pembelajaran, dan menggunakan berbagai media berbasis teknologi.


2). Model pembelajaran blended learning merupakan kombinasi dari pola pembelajaran langsung (tatap muka), belajar mandiri, dan pembelajaran menggunakan sistem online.


3). Guru dan orangtua memiliki peran yang sama penting, dimana guru berperan sebagai fasilitator dan orangtua berperan sebagai pendukung.

☝️☝️☝️

Jadi memang dari Karakteristiknya sudah terlihat bahwa dalam pembelajaran Blended Learning ini lebih kaya dalam aktifitas dan memang berusaha merangkul semua aspek pembelajaran.

Ada banyak model yang dapat digunakan guru untuk mengaplikasikan pembelajaran blended learning.

Setidaknya ada 4 yang terlihat pada gambar di atas.

1). Model Rotasi (Rotation Model)


Pada model kelas ini peserta didik akan diatur untuk bergantian menempati pos-pos kegiatan pembelajaran yang telah disediakan. Misalnya akan ada pos untuk kegiatan diskusi, mengerjakan proyek, tutorial secara individual, dan mengerjakan tugas atau latihan.

Baik ... Nahh .. untuk yang nomor 1 ... Ada 4 jenis:

Berikut beberapa model kelas yang termasuk pada kategori model rotasi (rotation model):

(a). Model Kelas Station Rotation

Sesuai dengan namanya, dalam model pembelajaran ini terdapat beberapa tempat atau perhentian (station) dimana peserta didik dapat menempatinya secara bergiliran sesuai dengan kesepakatan atau arahan dari guru.

Pada salah satu perhentian (station), peserta didik dan guru dapat saling berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahan yang ditemui oleh peserta didik.

Model pembelajaran ini sering digunakan dalam pembelajaran di sekolah dasar.


Pada pembelajaran blended learning, ada satu perhentian (station) dimana peserta didik belajar dan memanfaatkan teknologi untuk mempelajari bahan diskusi dalam kelas sebelum berkumpul dan berdiskusi dengan guru dalam perhentian (station) lainnya. Selain itu, tempat atau perhentian (station) juga dapat digunakan oleh peserta didik untuk berdiskusi atau bekerja menyelesaikan proyek yang ditugaskan guru. Model kelas station rotation ini sering digunakan dalam pembelajaran blended learning pada sekolah yang peserta didiknya tidak banyak yang mempunyai perangkat seperti tablet dan laptop.

(b). Model Kelas Lab/Whole Group Rotation

Berbeda dengan model kelas station rotation dimana perpindahan/perputaran yang dilakukan peserta didik masih berada dalam satu ruangan yang sama, pada model kelas lab/whole group rotation, peserta didik akan diatur untuk berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain. Salah satu ruangan digunakan untuk sesi pembelajaran secara online sedangkan ruangan yang lain digunakan untuk kegiatan yang lainnya.

(c). Model Kelas Flipped (Flipped Clasroom)

Model pembelajaran flipped classroom membalik siklus yang biasanya terjadi. Sebelum peserta didik memulai kelas, mereka akan mendapatkan pengajaran secara langsung melalui video secara online. Sehingga ketika kelas dimulai, peserta didik dapat mulai mengerjakan dan menyelesaikan tugasnya serta dapat meminta bantuan melalui kegiatan diskusi dikelas.

Berikut adalah ilustrasi dari kegiatan pembelajaran yang menggunakan model kelas flipped (flipped classroom).

(d). Model Rotasi Individu (Individual Rotation)

Pada model ini, siswa mendapatkan jadwal yang telah disesuaikan dengan masing-masing individual untuk dapat belajar secara mandiri. Jadwal ini dapat diatur baik oleh guru maupun diatur secara online. Model rotasi individu berbeda dengan model rotasi yang lainnya karena peserta didik tidak berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

2). Model Kelas Flex


Pada model kelas flex, sebagian besar pembelajaran dilakukan secara online sehingga pembelajaran bersifat sangat fleksibel. Peserta didik dapat belajar sesuai dengan kemampuan, kebutuhan dan kecepatan belajar masing-masing.

3). Model Self-Blend

Pada model ini, peserta didik dapat mengambil satu atau lebih kegiatan pembelajaran online sebagai tambahan dari kegiatan pembelajaran tatap muka yang telah dilakukan.



4). Model Enriched-Virtual

Pada model kelas ini program pembelajaran dibagi menjadi dua sesi, yaitu pembelajaran tatap muka dan pembelajaran secara online. Pada awalnya model kelas enriched-virtual sepenuhnya adalah model kelas online. Namun pada perkembangannya ditambahkan model blended learning untuk memfasilitasi peserta didik melalui pembelajaran tatap muka.

Blended Learning memang sudah dibuktikan merupakan pembelajaran efektif.

Dan andaipun kita belum bisa menjalankan di sekolah kita ...

Kata-kata mutiaranya adalah:
Minimal kita tahu 😘

Yups ...

Dan sebagai pembelajar yang berkiprah di dunia pendidikan ... 
Hal-hal seperti ini, kalau bisa kita jangan ketinggalan 'untuk tahu'. Kan ya....

#Semon_GGDN