Sabtu, 26 Desember 2020

Pembelajaran Kolaboratif Dengan Lesson Study

Pembelajaran Kolaboratif Dengan Lesson Study

Pembelajaran  kolaborasi sudah tidak asing lagi bagi kita. 

Pembelajaran dengan konsep bekerjasama biasanya sering di gunakan untuk menunjang kegiatan belajar dalam kelas maupun diluar kelas. Biasanya kegiatan kolaborasi dilakukan oleh siswa.

Untuk saat ini pembelajaran kolaborasi dianggap penting dalam proses pembelajaran.

Salah satu ciri pembelajaran abad 21 adalah kolaborasi dan interaksi/komunikasi.

Nah, kali ini yang berkolaborasi adalah guru..

Menarik, karena guru bersama-sama melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Bersama dalam mendesain perencanaan, pelaksanaan dan penilaian/evaluasi, dengan kegiatan LESSON STUDY.

Apa sih Lesson Study (LS) itu??

LS adalah model kegiatan guru untuk mengembangkan mutu dalam aktivitas kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru secara kolektif.

LS secara sederhana dapat disebutkan sebagai pengkajian terhadap pembelajaran.

LS bukanlah sebuah kegiatan sesaat namun kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan.

Sampai saat dimana indikator yang kita inginkan terpenuhi atau mendekati terpenuhi. Karena kegiatan ini dimaksudkan untuk memperbaiki proses dan hasil belajar.

Jadi pelaksanaan LS sangat membutuhkan energy yang kuat dari guru-guru  yang akan berkolaborasi.


Ada 3 yang dapat kita simpulkan :

1. LS pembinaan profesi

2. Pembelajaran kolaboratif

3. Membangun learning community

Fokus utama pelaksanaan LS adalah aktivitas siswa dalam kelas.  Aktivitas siswa tersebut berhubungan dengan materi atau KD yang sedang disampaikan oleh guru model.

Proses pembelajaran berlangsung seperti biasa, tampil apa adanya sesuai dengan rencana pembelajaran yang sudah dirancang. Proses pembelajaran yang tampil secara alami akan lebih dirasakan guru maupun siswa sehingga semua aspek yang akan diamati dapat ditangkap dengan lengkap dan mempermudah ketika di diskusikan dalam refleksi.

Di era pandemi skr ini bgm caranya agar LS tetap berjalan? Padahal PJJ yang trend diberlakukan.

PJJ tidak memungkinkan kita melaksanakan LS. Mudah mudahan setelah normal dapat kita laksanakan.

Ada beberapa tahapan pelaksanaan LS :

A. PERENCANAAN

1. Membentuk kelompok Lesson Study yang terdiri dari 3 atau lebih guru dengan mapel  yang sama. Dibantu oleh guru ahli  yang  memahami Lesson Study.

2. Menentukan 1 orang guru sebagai guru model.

3. Menyusun tugas dan komitmen bersama.

4. Menyusun jadwal pertemuan.

5. Menyepakati materi/KD 

6. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

7. Menyusun instrument dan aspek apa yang akan diamati

Tahapan PERENCANAAN adalah tahapan yang sangat menentukan kelancaran ke tahap berikutnya. Pada tahap ini,  semua guru yang terlibat pada pelaksanaan LS membuat komitmen bersama. Menyusun indikator –indikator apa yang akan menjadi objek pengamatan.

Objek pengamatan :

- Sikap dan prilaku kecendrungan belajar

- Motivasi 

- Keterampilan

- Pengetahuan

- dll

Indikator yang akan dijadikan objek pengamatan dituangkan dalam bentuk instrument pengamatan.

Pada tahapan 1, yang tidak kalah pentingnya adalah mempersiapkan GURU MODEL.

Guru Model adalah guru yang akan melaksanakan kegiatan belajar mengajar dalam kelas/luar kelas.


B. PELAKSANAAN

1. Melaksanakan pembelajaran dalam kelas oleh guru model.

2. Guru yang lain dan guru ahli (pakar) sebagai pengamat.

3. Dokumentasikan setiap prilaku siswa saat pembelajaran berlangsung.

4. Pengamat membuat catatan-catatan yang dianggap penting.

Tahapan PELAKSANAAN adalah tahapan pembelajaran berlangsung. Pada tahapan ini guru model melaksanakan KBM beperti biasa sesuai dengan RPP yang sudah dirancang bersama.

Sementara guru lain yang berkolaborasi berdiri atau duduk dibelakang kelas.

Tugas guru lain tentu mengamati, mencatat dan merekam setiap aktifitas siswa berupa prilaku, sikap, respon terhadap materi ajar yang disampaikan oleh guru model.

Sangat dianjurkan pelaksanaan LS hanya 3 - 4 guru saja. atau kalaupun lebih dari itu sisanya berada diluar kelas.

Guru yang bertugas sebagai pengamat, dapat mengamati interaksi siswa dengan siswa, siswa dengan guru model, siswa dengan materi pembelajaran.

Jadi, yang menjadi objek pengamatan adalah aktifitas siswa, bukan Guru Model.


C. REFLEKSI

1. Refleksi dari guru model.

2. Tanggapan  dari guru lain sebagai pengamat.

3. Presentasi dan diskusi tentang hasil pengamatan berdasarkan data yang dihimpun oleh guru pengamat dan ahli.

4. Tanggapan dan saran dari guru ahli.

5. Merencanakan pembelajaran tahap berikutnya.

Tahapan ini cukup penting untuk kegiatan LS berikutnya. Refleksi adalah umpan balik dari kegiatan LS yang dilaksanakan. Mendiskusikan semua aspek yang diamati. Refleksi bermanfaat untuk memetakan kelebihan dan kelemahan pelaksanaan LS sebelumnya. Sehingga pertemuan berikutnya jauh lebih baik.

Pada dasarnya hanya 3 tahapan dari kegiatan Lesson Study itu..

LS dilakukan lebih dari 1 kali karena guru yang berkolaborasi ingin mendapatkan grafik data  tentang indikator yang diamati.

LS sangat bermanfaat diera modern ini, dengan kompleksitas pembelajaran yang jauh lebih rumit, akan sangat terbantu dengan adanya kolaborasi.

Nah, ada 2 tahapan lagi yang harus guru tuntaskan demi sempurnanya pelaksanaan LS.


D. MENULIS LAPORAN

LS yang sudah dilaksanakan oleh guru harus didokumentasikan dalam bentuk laporan kegiatan.

Menulis laporan pelaksanaan LS adalah tahap terakhir, jika para guru yang berkolaborasi ingin mendokumentasikan hasil LS dalam bentuk laporan.

Laporan bisa dalam bentuk karya tulis, makalah atau penelitian. Masing-masing mempunyai kaidah dan tata cara penulisannya.

Aspek deviden dalam bentuk laporan kegiatan dan dokumen pelaksanaan kegiatan lainnya berperan penting sebagau bukti legal yang dapat dipertanggungjawabkan, dan bisa digunakan untuk karir guru.

Laporan LS bisa dijadikan publikasi ilmiah guru.

LS dapat dilaksanakan disekolah dengan sesama guru satu mapel, atau guru kelas. Bisa juga antar sekolah melalui KKG atau MGMP.

Pelaksanaan LS akan terasa berbeda kalau dilaksanakan dengan sekolah yang berbeda. misalnya, 3 sekolah berkolaborasi dan guru modelnya adalah guru yang mengajar di sekolah lain.


E. SEMINAR LAPORAN

Jika laporan dalam bentuk penelitian (PTK misalnya), maka harus diseminarkan. Tetapi kalau hanya dalam bentuk karya tulis biasa seperti makalah, atau untuk laporan kegiatan seandainya kegiatan  LS di danai oleh Dana Bos, maka tidak perlu diseminarkan.

Yang menjadi permasalahan ketika menentukan guru model di LS, 

Tidak semua orang mau membuka diri. Paling dia, lagi, dia lagi yang jadi guru modelnya?.

Kalau guru yang kreatif dlm mengajar pasti capaian hasil belajar, motivasi anak akan baik.

Sebagaimana kegiatan kolaborasi dapat memecahkan permasalah pembelajaran didalam kelas dengan aneka respon dan reaksi dari siswa ketika proses LS berlangsung.

Pengamatan tentu tidak 1 atau 2 kali saja,minimal 3 kali. Sehingga indikator yang dinginkan guru yang berkolaborasi dapat diamati dan didiskusikan solusinya.

Semoga setelah ini dapat ber Lesson Study. Bisa dengan sesama guru disekolah, atau antar sekolah melalui KKG/MGMP.

😔


Tidak ada komentar:

Posting Komentar