Sabtu, 30 November 2019

Merdeka belajar


Pertama, saya ingin mengajak kita berefleksi.

Seberapa sering kita bercakap-cakap dengan anak? Seberapa banyak waktu percakapan kita gunakan untuk mendengarkan? Seberapa jauh kita memahami perasaan mereka ketika mengikuti pelajaran kita? Seberapa jauh kita mengetahui apa yang perlu dibantu agar anak belajar lebih efektif?

Terima kasih buat teman-teman yang sudah berpihak kepada anak. Buat yang belum, ayo sediakan waktu dan energi untuk memahami anak.

Mengapa?

Anak, sebagai subjek utama dalam pendidikan, hampir selalu dikorbankan. Begitu banyak keputusan mulai keputusan harian di rumah dan kelas, keputusan penetapan anggaran setiap tahun hingga keputusan lima tahunan terkait pimpinan dan kebijakan nasional masih jauh dari percakapan yang berpihak kepada anak.

Bahkan dalam percakapan sehari-hari para pendidik, guru dan orangtua, kecenderungannya lebih pada menyalahkan anak. Anak sebagai terdakwa dari segala macam keruwetan persoalan pendidikan sambil lupa bahwa awalnya berakar pada keputusan dan tindakan orang dewasa.

Padahal pendidikan seharusnya berdiri pada keyakinan bahwa anak adalah potensi kebaikan yang tak terbatas. Misteri yang belum terungkap. Peran pendidikan memfasilitasi potensi tersebut berbuah menjadi kebaikan nyata dalam kehidupan.

Keyakinan dasar pendidik adalah percaya bahwa anak bisa berubah, bahwa anak bisa berkembang. Tanpa keyakinan tersebut, pendidikan hanya akan menjadi usaha yang absurd, melakukan tindakan yang sedari awal sudah diniatkan untuk gagal.

Banyak bukti menunjukkan ketika guru menjadikan anak sebagai sekutu utama maka kualitas pengajaran akan meningkat. Anak yang menjadi sekutu utama guru akan merasa dipahami dan akan terlibat sepenuh hati dalam proses belajar. Tujuan pengajaran tidak lagi monopoli guru tapi jadi tujuan bersama, guru dan murid.

Guru yang menjadikan anak sebagai sekutu utama lebih besar kemungkinannya menghasilkan praktik baik dan inovasi pengajaran. Sekolah yang memfasilitasi persekutuan guru dengan anak lebih berpotensi melibatkan orangtua dan mendapatkan dukungan dari komunitas yang lebih luas.

Berpihak kepada anak bukan keinginan kita, bukan kebutuhan kita, bukan agenda kita. Berpihak kepada anak adalah pondasi kita sebagai pendidik. Mari kita pastikan pondasi tersebut tetap dan selalu kokoh menjadi dasar dan semangat kita mendidik.

Berhenti menyalahkan, mari berdaya mengubah keadaan. Cari cara yang lebih mendekatkan kita pada keberpihakan pada anak. Bagi dan sebarkan praktik baik kepada guru dan pendidik yang lain.

Refleksi secara berkala, tiap hari, tiap minggu, sepanjang tahun, sudahkah kita berpihak pada anak? Sudahkah keputusan dan tindakan kita berdampak positif kepada anak?

Tanpa berpihak pada anak, apalah artinya kita sebagai guru

Sekali merdeka, tetap merdeka belajar!

Bukik Setiawan - Kampus Guru Cikal perwakilan dari Klaster Pengembangan Guru
*Disampaikan pada Konferensi Pendidikan Indonesia - Cluster Pengembangan Guru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar