Keledai dan Cacian Orang (Kisah Luqman Al-Hakim)
Indikatornya : mampu menjadi guru yang kokoh d atas kebenaran dan kebaikan
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Ibu-ibu sekalian yang dirahmati Allah SWT,
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat-Nya, terutama nikmat iman dan Islam, sehingga kita bisa berkumpul di majelis ilmu yang penuh berkah ini. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Pada kesempatan yang mulia ini, kita akan merenungi sebuah kisah yang sangat inspiratif dari seorang hamba Allah yang shalih, Luqman Al-Hakim. Kisah ini bukan sekadar cerita, melainkan pelajaran berharga tentang bagaimana menghadapi ujian dalam hidup, khususnya cacian dan hinaan dari orang lain, sambil tetap kokoh berada di atas kebenaran dan kebaikan.
Kisah Luqman dan Keledainya
Kisah ini menceritakan perjalanan Luqman bersama putranya. Luqman menasihati putranya untuk tidak mudah terpengaruh oleh omongan orang lain. Untuk membuktikannya, Luqman mengajak putranya melakukan perjalanan dengan seekor keledai.
Adegan Pertama: Luqman menaiki keledai, sementara putranya berjalan kaki.
Melihat pemandangan ini, orang-orang di jalan mulai mencemooh, "Ayah macam apa itu, dia enak-enakan di atas keledai, sementara anaknya dibiarkan berjalan kaki. Sungguh tega!"
Mendengar cacian itu, Luqman berkata kepada putranya, "Lihatlah, Nak. Kita telah dicela."
Adegan Kedua: Luqman turun dari keledai dan meminta putranya yang menaikinya.
Orang-orang kembali berbisik-bisik, "Anak tidak tahu diri! Dia menaiki keledai, sementara ayahnya yang sudah tua dibiarkan berjalan. Dasar anak durhaka!"
Luqman kembali berkata kepada putranya, "Lihatlah, Nak. Kita kembali dicela."
Adegan Ketiga: Mereka berdua menaiki keledai secara bersamaan.
Lagi-lagi, orang-orang berkomentar, "Sungguh kejam! Keledai kecil itu harus menanggung beban berat mereka berdua. Mereka tidak punya rasa belas kasihan!"
Luqman berkata, "Lihatlah, Nak. Kita tetap dicela."
Adegan Keempat: Luqman dan putranya berjalan kaki, sementara keledai dibiarkan berjalan di depan mereka.
Orang-orang menggeleng-gelengkan kepala sambil berkata, "Sungguh aneh! Mereka punya keledai tapi tidak dinaiki. Sungguh bodoh!"
Luqman menasihati putranya, "Wahai anakku, engkau telah melihat sendiri. Apapun yang kita lakukan, orang-orang akan selalu punya komentar. Jika kita ingin selamat dari omongan mereka, itu adalah hal yang mustahil."
Pelajaran Berharga dari Kisah Ini
Ibu-ibu sekalian, dari kisah Luqman Al-Hakim ini, kita bisa mengambil beberapa pelajaran penting, yaitu:
Hidup ini akan selalu dipenuhi ujian dan omongan orang. Seperti halnya Luqman, setiap keputusan dan tindakan yang kita ambil akan selalu dinilai dan dikomentari. Ada yang memuji, tapi tidak sedikit pula yang mencaci.
Keledai dalam kisah ini adalah simbol diri kita dan setiap kebaikan yang kita lakukan. Seringkali, kita merasa tidak nyaman atau bahkan takut berbuat baik karena khawatir akan komentar orang. Padahal, kebaikan itu mutlak datangnya dari Allah SWT dan seharusnya tidak perlu dikhawatirkan.
Kokoh di atas kebenaran. Tujuan utama Luqman bukanlah mencari pujian atau menghindari cacian, melainkan memberikan pelajaran berharga kepada putranya. Tujuan kita sebagai seorang guru, orang tua, dan teladan adalah menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, bukan untuk memuaskan manusia.
Dalil Penguat: Pedoman Kita dalam Berdakwah dan Berbuat Baik
Allah SWT telah memberikan pedoman yang jelas dalam Al-Qur'an dan Sunnah tentang bagaimana kita harus bersikap.
1. Dalil Al-Qur'an
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 54:
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad (kembali dari agamanya), maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yan
Ayat ini secara gamblang menegaskan bahwa ciri orang beriman yang sejati adalah mereka yang tidak takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela ketika berjuang di jalan Allah. Kebaikan yang kita lakukan adalah bagian dari perjuangan di jalan Allah, dan kita tidak perlu goyah karena omongan orang.
2. Dalil Hadits
Rasulullah SAW juga telah memberikan nasihat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:
Artinya: "Barangsiapa yang mencari ridha Allah meskipun membuat manusia marah, maka Allah akan ridha kepadanya dan akan membuat manusia ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang mencari ridha manusia meskipun membuat Allah murka, maka Allah akan murka kepadanya dan akan membuat manusia murka kepadanya."
Hadits ini adalah kunci utama. Prioritas utama kita adalah mencari ridha Allah, bukan ridha manusia. Ketika kita kokoh berpegang pada kebenaran dan kebaikan demi Allah, maka sesungguhnya Allah-lah yang akan membalikkan hati manusia untuk menerima kita.
Penutup
Ibu-ibu sekalian,
Materi pengajian kita hari ini mengajarkan kita untuk menjadi guru yang kokoh di atas kebenaran dan kebaikan. Guru di sini tidak hanya dalam konteks pengajar di sekolah, tetapi juga sebagai pendidik dalam keluarga, sebagai teladan bagi anak-anak, dan sebagai penyebar kebaikan di lingkungan sekitar kita.
Jangan biarkan lisan-lisan yang mencela mematikan semangat kita untuk berdakwah, berbuat baik, dan mengamalkan ajaran agama. Ingatlah selalu kisah Luqman dan keledainya. Teruslah berjalan di jalan yang lurus, meskipun orang lain mencoba untuk menghalangi kita dengan cemoohan. Sebab, pada akhirnya, hanya ridha Allah-lah yang paling berharga.
Semoga kita semua bisa menjadi hamba Allah yang tidak goyah, yang senantiasa kokoh di atas kebenaran, dan yang tidak takut akan celaan dari siapapun.
Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thoriq,
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar